Roy Suryo Berlebaran

Kompas Yogyakarta 30 Sept 2008, tepat sehari sebelum idul fitri.
Ada iklan seperti ini, no comment deh, cuman kok bikin perut mual yah.

Kompas Yogyakarta 30 Sept 2008, tepat sehari sebelum idul fitri.
Ada iklan seperti ini, no comment deh, cuman kok bikin perut mual yah.
Jamanne mas jaman edyan, edyan tenan, nek ra edan ra keduman.
Baru sekali ini aku nemuin, ada suatu tempat public yang tidak menyediakan parkir buat motor, mobil only! Pacific Place Jakarta.
Apa sih ruginya menyediakan parkir barang beberapa meter persegi untuk pengendara motor? ya banyak mungkin ruginya yach
- mengurangi jumlah ruangan untuk mobil, yang notabene pengendara mobil adalah pembeli potensial
- pengendara motor mungkin hanya akan mengotori pemandangan mall tersebut yang serba exklusif
- tampilan pengendara (orangnya) motor kurang modis, semrawut, serba tampak kere
- semua berdampak pada image mall yang khusus untuk orang berdhuit
Mungkin emang bener apa yang mereka (Pacific Place) pikirkan, mana mungkin gembel pengendara motor mampu beli es krim Gelatissimo yang harganya lebih mahal dari gaji bulanan-nya. Emang jamanne wes edyan!
Photo from: amandagoestooz.blogspot.com
Dari postinganku yang lalu, hati terasa riang gembira dan lega karena TV One berjanji menyajikan liga inggris, so, kita-kita bisa nonton gratis. Bukan itu aja, mereka jg menjanjikan akan menyajikan big match, bukan cuman pertandingan level kroco.
Nyatanya? dua minggu berlalu, pertandingan yang ditayangkan cukup membosankan. Bigmatch tak tersentuh sedikitpun.
KECEWA
mungkin bukan kecewa karena tv one tidak menayangkan big match, tapi mungkin karena ga kuat berlangganan 1,7 jt setahun hanya untuk nonton liga inggris di Aora.
Seperti kita ketahui, Aora TV cuman mempunyai tak lebih dari 10 channel, tanpa HBO, tanpa National Geography pastinya.
Tanpa tendensi apapun, hanya berdasarkan pengamatan visual saja. Aku cukup tergelitik dengan logo partai PDP ini, menurutku inilah logo partai terburuk.
Alasan
- tidak simple, tampak semrawut
- tidak jelas maksudnya. Itu tanda tangan pendiri, atau gambar banteng, atau kerbau ![]()
- tidak mudah diingat
orang lain, bahkan ketum nya sendiri, mungkin tidak akan bisa mengingat logo tersebut, berapa sih jumlah garis-garis di kepalanya yang acak adut itu
Bagaimana menurutmu? adakah lagi yang lebih buruk?
TV One, semenjak berganti nama, berganti brand, berganti logo, dan tentunya berganti pemilik, memang benar-benar berusaha menunjukkan perubahan. Tapi, so far so good, at least sekarang aku memfavoritkan acara berita nya “Apa Kabar Indonesia”, yang dikemas dengan sangat santai, menghadirkan tokoh-tokoh penting, dibawakan cewek2 dewasa nan cantik dan tampak cerdas.
Sekarang, mereka tidak main-main lagi, Premier League digondol nya. TV One tahun ini menjanjikan akan menayangkan Liga sepakbola terpopuler di dunia ini. Bagiku, bagi konsumen, lega bercampur gembira, itu pasti!
Inilah yang aku impikan, sektor-sektor swasta saling berlomba-lomba untuk menghadirkan yang terbaik, toh pada ujung-ujungnya, kita-kita (baca: konsumen) juga yang diuntungkan.
Apa Kabar Indonesia malam ini Bang One ?
Terkait: Detik
Setiap negara mempunyai hak untuk mengelola domainnya sendiri, Indonesia pada hal ini berhak mengelola domain .id secara independen. Setiap negara juga berhak menentukan aturan-aturan didalamnya, misalnya .us, milik Amrik, membebaskan siapa saja untuk mempunyai domain dengan akhiran .us, meskipun ada sedikit syarat yang mudah. Domain .tk, justru malahan digratiskan, setiap orang diperbolehkan memiliki domain .tk tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.
Indonesia dengan domain .id nya berkali-kali mengalami polemik internal, yang pastilah ujung-ujungnya para pengusaha yang bersangkutan dengan dunia online Indonesia yang terkena imbasnya.
Saat ini, domain .id dikelola oleh organisasi dengan nama PANDI, setelah sebelumnya diumumkan domain .id akan diserahkan ke beberapa pihak registrar swasta lokal, kemudian malahan terjadi rebutan antar lebih dari satu organisasi yang merasa berhak mengelola domain .id. Dan pada akhirnya dibentuklah sebuah organisasi PANDI, yang dijanjikan akan memperbaiki sistem selama ini, dan lebih profesional.
Kenyataannya, tak berbeda jauh dari sebelumnya. Memang ada beberapa yang terjadi perbaikan, misalnya, sekarang aplikasi pendaftaran domain sudah disediakan websitenya, dan lebih mudah dibanding beberapa tahun sebelumnya. Tapi, yang malahan menjadi lebih parah dari pendahulunya juga tidak kalah.
Salah satu contohnya, sebuah percakapan antara staff perusahaan domain dan staff pandi berikut ini:
S= staff perusahaan domain
C= Customer support dari Pandi
S: Mengapa domain saya yang XXXXXX belum juga di aktifkan ?
C: Oh sebentar, bu YYY nya sedang makan siang
beberapa puluh menit kemudian
S: Saya yang tadi domain XXXXXX, kapan bisa diaktifkan ya?
C: Maaf ya bu, ini kami masih kekurangan pegawai, jadinya masih kacau,
mungkin ibu bisa bantu kami untuk nyariin orang untuk jadi pegawai pandi?
Sangat-sangat tidak profesional.
Ada lagi, pernah seorang staff perusahaan domain mau membuat domain, mengajukan aplikasi sesuai prosedur, tapi, malahan mendapatkan balasan email sbb:
“nice try, XXX, anda kan tahu,
kata XXX is a reserved word dan tidak
boleh dipakai sbg nama domain,
mmg server & website kita kasih !
jangan coba lagi ya !”
Masak sih jawaban dari organisasi yang dipercaya mengelola domain kita seperti itu. Ada yang mendaftarkan domain dengan baik-baik kok dibilang “nice try”,
kalau ga memenuhi syarat kan tinggal dikasih tau syaratnya apa yang kurang, atau bisa dikasih tau kalau emang domain itu ga boleh dimiliki.
Pandii pandiii, kelaut aje!