Archive for June, 2008


My stupid IPHONE

Siang tadi, ga ada kerjaan, iseng iseng nginstall beberapa game di iphone. Install selesai, dan tiba-tiba mbak riny pun nelpon. Akibatnya, Iphone pung nge-hang.

Inilah salah satu kekurangan besar dari iphone, saat hang, tidak bisa direstart, tidak bisa dimatikan, dan bahkan, kita mau copot baterainya aja ga bisa. :( So, iphone hanya bisa dibiarkan terus menerus hang sampai baterai habis, berharap nanti setelah baterai habis dan mati, setelah idup bisa normal lagi.

Kenyataan jauh dari harapan, iphone ku yang telah mati kehabisan baterai, dan dicharge lagi, ternyata masih nge-hang lagi. Sekarang sudah kali ke 3 aku mengulangi hal tersebu, menunggu baterai habis, charge ulang, dan hang lagi :(
Ugh, masih bingung apa yang harus dilakukan sekarang.

Denger-denger pernikahan beda agama di Indonesia masih sangat-sangat repot, dan juga masih berimbas ke pembuatan akta kelahiran sang buah hati (yang notabene ga tau apa-apa). Ujung-ujungnya, sang buah hati pun jadi susah cari sekolah, susah mengurus surat-surat birokrasi.

Dengan asumsi, tak ada satupun yang mau berpindah agama,
apa solusi terbaik untuk kasus pernikahan dari dua insan yang beda agama?

1. Tetap menikah dalam keadaan berbeda agama
Konsekuensinya, harus repot mengurus birokrasi, pre wedding maupun post wedding nya. Keuntungannya, keluarga kedua belah pihak lebih merasa adil. Karena, luka yang dirasakan kedua keluarga relatif agak berimbang.

2. Menikah di luar negri
Untuk kalangan jetset, mungkin salah satu solusinya adalah menikah di luar negri (di negara sekuler). Kerugiannya adalah biaya yang membengkak, dan kemungkinan hanya akan mempermudah birokrasi pre wedding nya, namun post weddingnya tetep masih ribet juga. Keuntungannya, nikah sekalian bulan madu :D, dan lepaskan semua pusing masalah beda agama tersebut sambil jalan-jalan sepuasnya.

3. Menikah 2 kali, 2 agama
Salah satu temenku pernah berencana akan menikah dengan model ini, yaitu pernikahan diadakan dua kali, yang pertama diadakan dengan tatacara agama cewek, dilanjutkan pernikahan dengan tatacara yg cowoknya. Cara ini lebih bertujuan untuk memuaskan keluarga kedua belah pihak, tapi masalah birokrasi tetep saja rumit, karena pada dasarnya di KTP masing-masing, agamanya masih beda.

4. Campuran
Menurutku, (asal ngomong aja), yang paling mendingan solutif adalah Menikah tetap dalam keadaan berbeda agama, tapi menikahnya dengan dua tatacara, dan salah satu pihak “berpura-pura” didepan hukum berpindah agama.
Begini detail nya
- Ce & Co tetep dengan agama mereka masing-masing
- Pernikahan, diadakan dua kali, dengan tatacara 2 agama. Supaya, kedua keluarga puas! :P
- Dengan tujuan memudahkan pengurusan birokrasi pre dan post wedding, maka salah satu pihak berpura-pura berpindah agama secara hukum. Bukankah agama adalah urusan pribadi? peduli amat di KTP mau ditulis agama apa, yang penting masih menjalankan tuntunan agama yang diyakini. Dengan begini, anak-anak dikemudian hari pun juga ga akan mengalami kesulitan dalam hal birokrasi indonesia kita yang bobrok. Jika tidak ada salah satu pihak yang rela berpura-pura, maka bisa diadakan undian, atau “pingsut”. Gitu aja kok repot (kata gusdur).
- Setelah pernikahan berjalan lancar, honey moon selesai, suasana kembali normal dan sudah ada waktu, pihak yang pindah agama tadi, bisa berpindah agama lagi (secara hukum) ke agama yang dianut. Atau singkatnya, KTP si pengantin yang pindah agama dibalikin ke status agama asal.

Mengapa nikah beda agama harus di larang?
Toh mereka malahan sudah menunjukkan keseriusan dengan menikah, daripada “jajan” tiap malem.
Aku masih belum menemukan alasan yang tepat untuk melarang orang menikah berbeda agama.
Yah, agama adalah wilayah keyakinan jauh didalam lubuk hati, bukan hak kita untuk menghakimi ke-agama-an seseorang.
Mungkin, besok kl dah jadi orang tua, baru bisa keluar nilai2 ego keagamaanku :)

nb: Kebetulan ada beberapa temen yang saat ini sedang mengalami hal yang kurang lebih nya serupa, go go go guys n girls, semoga tercapai segala cita-cita mu :p

Irit cetak Foto? hal simpel yang kadang tak terpikirkan sebelumnya. Berikut uraian dari temen kuliah:

di era fotografi digital saat ini, jika kita akan mencetak pas foto, maka satuan yg biasanya digunakan adalah per set.

adapun satu set artinya adalah:
8 buah foto ukuran 2×3 , atau
6 buah foto ukuran 3×4 , atau
4 buah foto ukuran 4×6.

ide ini sebenarnya adalah dari adik saya, kemudian saya hanya membantu proses nya saja.

intinya adalah, jika kita akan mencetak pas foto, jangan memberikan file foto asli kemudian meminta cetak pas foto, karena dengan begini, anda akan dikenai harga cetak pas foto yaitu per satu set.

ide dari adik saya adalah dengan menyusun file foto asli tersebut, menjadi sekumpulan foto, yang total ukurannya adalah 5R, kemudian dicetak sebagai foto 5R (ukuran 5R = 127mm x 178mm).
Read the rest of this entry »

Beberapa waktu yang lalu Gindo.com merubah wajahnya, dan merombak struktur internalnya. Seperti janjinya, perubahan itu juga diikutin dengan menyuguhkan paket hosting yang belum pernah ada di Indonesia. Ya, paket hosting 100 GB, dan ga cuman itu, tiap bulan space nya bertambah sebesar 1 GB. Bandwidth yang diberikan juga ga tanggung-tanggung, 3 Terabyte. Hingga hari ini menurut informasi dari Gindo, order baru paket hostingnya membludak.

Inikah era baru per-hosting-an di Indonesia?

Hosting Indonesia Space Super Besar

Sebelum:
Bakmi kadin asli

Sesudah:
Bakmi kadin hasil jiplakan

Wooops, skandal buku “100 warung makan enak di jogja” belum kelar, Bu Pimred TrulyJogja menemukan lagi plagiat yang ga kira-kira. Lagi-lagi gak cuman 1 ato 2 artikel, buanyak banget. Coba yuks langsung kita tengok.

- Versi original TrulyJogja.com
Petualangan Kuliner Jamur di Jejamuran

- Versi jiplakan di KagakRibet.com
Tanpa menuliskan sumber, foto diambil dan dipotong copyrightnya. Content di jiplak, hasilnya:
Serba Jamur di Jejamuran

Masih ada lagi…

- Versi original TrulyJogja.com
Gudeg Geneng Mbah Marto, Persembunyian Mangut Lele

- Versi jiplakan di KagakRibet.com
Tanpa menuliskan sumber, foto diambil dan dipotong copyrightnya. Content di jiplak, hasilnya:
Mangut Lele Di Warung Gudeg Ngganeng

Lagi? masih banyak kok…
Bakmi Kadin:
http://trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=2&news_id=362
http://www.kagakribet.com/food.php?id=1iif6cq2lL37

Speechless dech… Sebegini biasakah plagiat di Indonesia?
Emang degh, KagakRibet.com emang kagak mau ribet,…..

Beberapa minggu yang lalu, saya dikabari beberapa temen, kalau ada yang bikin buku kuliner jogja, tapi kontentnya ambil tanpa ijin dari TrulyJogja.com .

Hmm, yah aku memaklumi, kalau hanya ambil satu dua, mungkin karena yang nulis mentok ga punya bahan.

Kemarin sore, crew IDwebhost ada yang kebetulan membeli buku tersebut, dan ternyata, upssss, buku yang dimaksud diatas tidak hanya mengambil satu dua artikel, tapi hampir keseluruhan buku tersebut mengambil dan merangkum dari TrulyJogja.com

Kaget minta ampunn, aku cek ricek lagi, benerann dehhh.,, keseluruhan buku hanya maen comot dan maksimal hanya merangkum dari TrulyJogja.com aja.

Banyak judul artikel yang sama persis, banyak beberapa kalimat yang tidak diubah sama sekali, dan bahkan yang lucunya, ada warung kuliner yang sudah ditutup, dibuku tersebut tetap diliput. Gilee bener, keliatan banget kalau yang ngaku penulis buku itu tanpa melakukan riset sama sekali.

Buku yang kumaksud ada disini:
http://delokomotif.com/product.php?nav=detail&id=11
100 warung makan enak di Jogja

Dan penerbitnya menempelkan blink “Best Seller” disampulnya. Halaman kedua dari buku, terpampang jelas bahwa buku tersebut sudah cetakan ketiga.

Penelurusan pada buku tersebut aku lanjutkan, dan aku tak menemukan satupun kata-kata trulyjogja. Ughhhh

Biaya pembuatan artikel trulyjogja tidak bisa dibilang murah, melibatkan banyak temen2ku, dan kami melakukan bener2 riset. Kami datang ketempat kuliner, mencoba tiap masakannya, kadang mewawancarai kokinya, dan semua dari duit pimred TrulyJogja. Jangan lupa, Pimred juga bersedia merogoh kocek pribadinya untuk membayar “gaji” kecil-kecilan untuk wartawan2nya.

Kesedihanku segera aku bagi dengan pimred Trulyjogja, dan ternyata beliau sudah mengkontak via email ke penulisnya. Menceritakan tentang macem2 masalah buku tersebut, mengapa tidak minta ijin dan sebagainya. Dan, dengan penuh kelembutan bu Pimred mengatakan, bahwa sebenarnya TrulyJogja orangnya nyantai, dan membuka segala bentuk kerjasama.

Taukah apa jawaban dari penulisnya????
“Terimakasih atas sarannya”
Andai saja dia bilang begitu didepanku, pasti reflek tanganku akan menamparnya.

Buat Wanda Djatmiko & M. Solahudin, yang mengaku sebagai penulis buku, yang didalam profile nya mengaku bekerja keras untuk menulis buku tersebut, yang aku yakin tahu benar apa itu etika menulis, mohon segera menghubungiku atau pimred TrulyJogja.com .

Mungkin plagiatisme ginian mulai marak di negri kita yang katanya baru “bangkit” ini, cosa aranda juga mengalami hal yang kurang lebihnya sama
http://www.cosaaranda.com/copy-paste-masal.htm

 

RecentComments

    • ## Peluang Bisnis ##: artikelnya oke bos. jangan lupa berkunjung ke blogku ...
    • ## phery ##: kritik untuk saya apa?...
    • ## NN ##: hahahahhahaaaa..biar gt "TAHAN BANTING" jg kan diem dstu,non...
    • ## Retno dewi ##: makasih pak, tipsnya. bikin kita jadi semangat dan mudah-mud...
    • ## Jojo ##: iya nihhh...mungkin semuanya harus tanggung jawab...traktiri...
    • ## Jojo ##: Jiplak menehhh...
    • ## phery ##: asik asik dapet tip dari pelaku bisnis online terkemuka di I...