Archive for Think


Kekuatan Promosi

Didalam memasarkan suatu produk, promosi adalah ruh dari penjualan. Terkadang, kita sebagai pemula lebih menitikberatkan pada produksi produk, tapi abai pada promosi itu sendiri.

Pada promosi, terdapat teori konvensional, yaitu teori 1/3. Apaan tuh? Teori ini mewajibkan kita mencurahkan 1/3 dari seluruh daya dan upaya kita dalam berbisnis untuk berpromosi. Tidak terbatas pada cost, yang minimal 1/3 dari penghasilan dijadikan sebagai biaya produksi, tetapi juga 1/3 dari kreatifitas kita, 1/3 dari waktu rapat kita, 1/3 dari ruang kerja, maupun 1/3 dari yang ada di angan-angan kita.

Menurutku, teori tersebut dapat dijadikan pegangan bagi pebisnis newbie, untuk selalu mengingatkan kita ke track yang benar, yaitu selalu memikirkan masalah promosi, dan bukan mengesampingkannya.

sampoerna hijauKonon, rokok Sampoerna Hijau, penjualannya naik 3 kali lipat, karena promosi “ga ada loe ga rame” nya yang sangat mengena, padahal rokok yang dijual harganya sama, dengan kualitas sama dan dengan bungkus yang sama pula.

So, jangan remehkan promosi. Jika bingung dengan puluhan macam teori promosi, ambil cara tergampang, gunakan terori 1:3.

Promosi tidak hanya diterapkan pada murni “bisnis”. Dalam masa kampanye presiden yang gencar saat ini, promosi menjadi alat utama untuk menembus survey LSI ataupun Indobarometer. Jika Anda memiliki blog, dan dalam 1 hari menghabiskan online 1 jam untuk menulis dan merias blog, maka pastikan sisihkan minimal 20 menit untuk berpromosi, bisa dengan cara ber blog walking, kopi darat, atau sekedar memasang status di facebook.

Sudahkah Anda tertib berpromosi?

Seorang programmer anak kuliahan, memulai website social networking ini dari kamar kos nya, tahun 2004 (beberapa bulan lebih awal dari oggix.com :P ). Mark Zuckerberg, programmer tersebut, telah menjadi orang muda terkaya didunia, dan situsnya, facebook, telah menjadi situs jejaring sosial terbesar saat ini.

Bulan agustus 2008 kemarin, FaceBook mencapai rekornya, website tsb berhasil mempunyai 100 juta member.

Divideo ini karyawan Facebook sedang menanti-nanti detik-detik pencapaian 100 juta nya. Jadi terharu, dan kagum, dan salut, dan bertanya ….. kapan kita-kita, orang indonesia membuat sesuatu yang besar ….

Terkait:

http://www.facebook.com/video/video.php?v=550766672024

 Lambang PDP

Tanpa tendensi apapun, hanya berdasarkan pengamatan visual saja. Aku cukup tergelitik dengan logo partai PDP ini, menurutku inilah logo partai terburuk.
Alasan
- tidak simple, tampak semrawut
- tidak jelas maksudnya. Itu tanda tangan pendiri, atau gambar banteng, atau kerbau :D
- tidak mudah diingat
orang lain, bahkan ketum nya sendiri, mungkin tidak akan bisa mengingat logo tersebut, berapa sih jumlah garis-garis di kepalanya yang acak adut itu :D

Bagaimana menurutmu? adakah lagi yang lebih buruk?

Zimbabwe, baru saja memangkas mata uangnya sendiri sebesar 10 nol, so, 10 milyar dolar zimbabwe akan menjadi 1 dolar aja. Padahal tahun 2006 juga barusan aja mata uang mereka dipangkas 3 nol nya. Jadi inget ma peristiwa “Gunting Stafrudin” kita, yang juga pastinya membawa sengsara.

Penjajah lokal memang selalu lebih kejam!

Denger-denger pernikahan beda agama di Indonesia masih sangat-sangat repot, dan juga masih berimbas ke pembuatan akta kelahiran sang buah hati (yang notabene ga tau apa-apa). Ujung-ujungnya, sang buah hati pun jadi susah cari sekolah, susah mengurus surat-surat birokrasi.

Dengan asumsi, tak ada satupun yang mau berpindah agama,
apa solusi terbaik untuk kasus pernikahan dari dua insan yang beda agama?

1. Tetap menikah dalam keadaan berbeda agama
Konsekuensinya, harus repot mengurus birokrasi, pre wedding maupun post wedding nya. Keuntungannya, keluarga kedua belah pihak lebih merasa adil. Karena, luka yang dirasakan kedua keluarga relatif agak berimbang.

2. Menikah di luar negri
Untuk kalangan jetset, mungkin salah satu solusinya adalah menikah di luar negri (di negara sekuler). Kerugiannya adalah biaya yang membengkak, dan kemungkinan hanya akan mempermudah birokrasi pre wedding nya, namun post weddingnya tetep masih ribet juga. Keuntungannya, nikah sekalian bulan madu :D, dan lepaskan semua pusing masalah beda agama tersebut sambil jalan-jalan sepuasnya.

3. Menikah 2 kali, 2 agama
Salah satu temenku pernah berencana akan menikah dengan model ini, yaitu pernikahan diadakan dua kali, yang pertama diadakan dengan tatacara agama cewek, dilanjutkan pernikahan dengan tatacara yg cowoknya. Cara ini lebih bertujuan untuk memuaskan keluarga kedua belah pihak, tapi masalah birokrasi tetep saja rumit, karena pada dasarnya di KTP masing-masing, agamanya masih beda.

4. Campuran
Menurutku, (asal ngomong aja), yang paling mendingan solutif adalah Menikah tetap dalam keadaan berbeda agama, tapi menikahnya dengan dua tatacara, dan salah satu pihak “berpura-pura” didepan hukum berpindah agama.
Begini detail nya
- Ce & Co tetep dengan agama mereka masing-masing
- Pernikahan, diadakan dua kali, dengan tatacara 2 agama. Supaya, kedua keluarga puas! :P
- Dengan tujuan memudahkan pengurusan birokrasi pre dan post wedding, maka salah satu pihak berpura-pura berpindah agama secara hukum. Bukankah agama adalah urusan pribadi? peduli amat di KTP mau ditulis agama apa, yang penting masih menjalankan tuntunan agama yang diyakini. Dengan begini, anak-anak dikemudian hari pun juga ga akan mengalami kesulitan dalam hal birokrasi indonesia kita yang bobrok. Jika tidak ada salah satu pihak yang rela berpura-pura, maka bisa diadakan undian, atau “pingsut”. Gitu aja kok repot (kata gusdur).
- Setelah pernikahan berjalan lancar, honey moon selesai, suasana kembali normal dan sudah ada waktu, pihak yang pindah agama tadi, bisa berpindah agama lagi (secara hukum) ke agama yang dianut. Atau singkatnya, KTP si pengantin yang pindah agama dibalikin ke status agama asal.

Mengapa nikah beda agama harus di larang?
Toh mereka malahan sudah menunjukkan keseriusan dengan menikah, daripada “jajan” tiap malem.
Aku masih belum menemukan alasan yang tepat untuk melarang orang menikah berbeda agama.
Yah, agama adalah wilayah keyakinan jauh didalam lubuk hati, bukan hak kita untuk menghakimi ke-agama-an seseorang.
Mungkin, besok kl dah jadi orang tua, baru bisa keluar nilai2 ego keagamaanku :)

nb: Kebetulan ada beberapa temen yang saat ini sedang mengalami hal yang kurang lebih nya serupa, go go go guys n girls, semoga tercapai segala cita-cita mu :p

Di dunia yang “agak fana” ini, klasifikasi manusia berdasar ras atau fisik sudah semakin kurang relevan. Menurut “Profesor Ogi”, klasifikasi berdasar maksud dan tujuan atau bahasa pemerintahnya visi dan misi lebih relevan.

Manusia bisa berwarna item, putih, coklat atau kuning. Tapi perwujuduan manusia pada hakikatnya sangat dikendalikan oleh apa yang ada di otak dan hati nya, apa yang menjadi tujuannya.

Misalnya, seorang manager, kerja disuatu perusahaan. Perusahaan itu bikin tender project untuk dikerjakan developer. Dan manager itu bertanggung jawab supaya project itu berjalan dengan lancar. (Klasifikasi resmi dari manager adalah agen pernjamin kesuksesan project).

Kenyataannya berkebalikan, karena manager tersebut tidak mendapatkan “jatah sogokan”, jadinya dia malah mempersulit developer untuk mengerjakan proyek itu. Jadi, tujuan manager bukan untuk suksesnya project, tapi untuk mendapatkan uang “jatah”. Tujuan yang beda itu membuat manager sanget berbeda dengan klasifikasi awalnya yang merupakan agen penjamin kesuksesan, tapi berubah klasifikasi menjadi agen penjegal project.

 

RecentComments

    • ## EMANUEL ##: tolong for ALL , gimana caranya mendaftarkan usaha menjadi f...
    • ## intothepresence ##: Wew, inspiring, i'm agree, the brand names is something like...
    • ## oto2 ##: nice blog, info yang berguna. nggak sangka segitu pentingnya...
    • ## Griya Bambu ##: Wahhh... makasih atas pencerahannya mas Ogi, segera ke Promo...
    • ## brahmantyo ##: Jancuk... gak oleh cuk.... Dosa dan bakalan di laknat Allah...
    • ## Donita ##: Terima kasih tipsnya....
    • ## imam ##: makasih banget nieh bang postingannya, sedikit membantu buat...