Archive for General


Who’s his name?

Lately, I realize that I often forget my friends’ name, especially those who are not close enough with me. For example, know I only can remember 4 names of my kindergarten friends. Only 10 names of my elementary school mates can I memorize. And surprisingly I just can remember no more than 50% of my college friends. Ughh.

Hmm, I don’t know why I so easily forget their name.
OK, let’s analyze it!
There are 3 things that may cause it (not just to me, but to anyone)
1. Too Small brain memory
2. Too busy with my/your own world
3. Too much friends

I think, for me point #1 is the most influential that makes me hard to remember all of my friends. Then, followed by point #2.
For point #3, I don’t think that I have too much friends.

What do you think?

Kemaren, 25 Juli 2007, akhirnya aku lulus juga dari MTI UGM, setelah beberapa bulan terakhir harus bangun pagi untuk kuliah ato ngerjain thesis. Seneng, apalagi liat bapak ibuku jg seneng.
Kadang bingung juga, karena … trus setelah ini mau ngapainnn… hehe. Whatever degh


Foto-foto selengkapnya ada di SINI . Foto-foto yang lain masih dalam proses, kapan2 kl sempet aku update deh.

Beberapa hari terakhir baru lumayan heboh pemberitaan 7 keajaiban dunia yang baru, yang pemilihan keajaiban dunia itu berdasarkan voting pengguna internet dan telp di seluruh dunia, dengan melibatkan 100jt responden. Banyak kalangan kurang setuju dengan penyelenggaraan voting tersebut, termasuk UNESCO yang tidak mengakui peringkat 7 keajaiban tersebut. Salah satu yang getol menolak adalah pihak Mesir, yang pyramid nya tidak dimasukkan ke daftar 7 keajaiban, dan secara emosional menyebutkan bahwa satu-satunya keajaiban dunia adalah Pyramid-nya

Untuk mengunjungi peringkat 7 keajaiban dunia terbaru tersebut, silahkan kunjungi http://new7wonders.com/ .

borobudur.jpg

Sebenernya itu tadi hanya intro, yang bergejolak di hati ku tuh malahan mengenai borobudur. Sedari kecil aku sudah didoktrin bahwa Borobudur adalah satu dari 7 keajaiban dunia, dan sampai sekarang pun aku masih beberapa kali mendengar orang bilang bahwa borobudur is one of 7 wonders. Tapi, hari ini aku mbaca di detik, yang di sana dipaparkan berbagai macam peringkat 7 keajaiban dunia, mulai dari 7 keajaiban dunia kuno, 7 keajaiban menengah, 7 keajaiban bawah laut dan beberapa lainnya. Dan kagetnya, di semua pemeringkatan keajaiban dunia itu, tak satupun kata-kata borobudur nampak.

Woooowww…
jadi aku baru sadar kalau selama ini aku membanggakan sesuatu yang salah, kirain termasuk 7 wonders, eee ternyata enggak. Dan aku jg masih ga tau darimana guru SD ku dulu bisa ngasih tau kami bahwa borobudur termasuk 7 wonders.

Hmmm … tuing - tuing

Here we are try to reach the stars
We are getting higher on and on Go go go
Like a hyperdrive
We came along this far
We are getting bigger on and on
We’re untouchables

It’s time to leave and break the wall
Now its time for revolution
It’s time to leave and breaking on
Its revolution

Writing in his Open Democracy blog on Aug. 8, Zaid Al-Ali says:

“A comparison cries out to be made. In 1967, the Israelis conquered the joint armies of Egypt, Syria, and Jordan and occupied enormous tracts of land in a mere six days; in 1973, the Israelis again defeated these same armies, now allied with Iraq, in twenty days; at the time of writing, Israel does not seem anywhere near defeating Hizbollah, a small guerrilla army of, at most, 5,000 fighters, although the conflict is now almost a month old.”

Zaid Al-Ali’s post is titled “Whatever happens Hizbollah has already won,” but is that true? It may be too early to say, but some observers think Hizbollah has won because, despite its inferior weaponry and comparatively insignificant numbers, it has so far successfully managed to defend Lebanese territory from a ground invasion.

Tenda tenda berdiri di padang pasir, menyerupai bukit-bukit kerdil yang dibentuk angin gurun. Saat itulah Qais bin Mu’adz bin Syamah bin Nasir yang belum Majnun (gila), melihat Laila di gerai tenda. Keduanya terpanah asmara pada pandangan pertama.

Hari berikutnya, ketika gelap membayang, dan yang hidup dalam tenda tinggal bayang-bayang, Qais yang kasmaran dirasuki kerinduan. Tak tahan memendam gejolak jiwa, dari bibirnya mengalir untaian kalimat pujaan, sebagai lantunan cinta yang mendalam.

Ketika cinta yang menggelora itu mendapat hambatan keluarga Laila, maka Qais jadi tergila-gila. Ia mengakrabi malam, mengolah desisan angin gurun sebagai musik, untuk mengiringi nada-nada indah yang terus meluncur dari mulutnya yang tak mau istirah.

Cinta yang dahsyat itu, syair yang melankolis itu, telah menguras airmata dan mengiris-iris kalbu para penghuni kabilah. Mereka tersentuh rintihan hati Qais, dan terbangkitkan oleh kedalaman cinta laki-laki yang mulai lupa daratan itu.

Dan saat Qais kabur dari kabilah menuju ‘bukit penyadaran’, semua orang akhirnya merasa kehilangan dan kesepian. Malam hari menjadi benar-benar sepi. Sebab rintihan hati Qais yang telah berubah menjadi musik pengantar tidur itu sudah tidak ada lagi.

Sedang Qais dalam kesendirian kian terkubur cinta. Bukan lagi cinta pada kecantikan Laila, tetapi sudah jauh melampaui batas-batas cinta manusia biasa. Majnun telah keluar dari fitrah manusia normal. Ia memasuki dunia spiritualitas yang indah. Mahabbah! Cinta pada Allah.

Sumber( Detik.com )

 

RecentComments