Donggala, Empat Puluh Derita, Satunya Tangis

Dari senin kemarin, aku sama ayik dan Pak Awal ke Donggala (sulawesi tengah). Di sini kami ngurus-ngurus proyek Simpeg PemKab. Ternyata ga semudah yang dibayangkan. Semua berjalan alot, apalagi ditambah budaya korupsi kolusi yang disini masih sangat kental dan bebas. Orang-orang disini kolusi korupsi tanpa malu2.

Kami rencananya kesini mau survey, ambil sampel2 form, analisis masalah dsb dsb. Tapi nyatanya, setelah kami disini, proyek ini masih belum jelas, semua masih samar-samar. Jadinya kami disini malahan mengurus administratif, trus nego-nego sama bagian kepegawaian, fiuhhh.

Ceritanya gini, alkisah ada Bagian Kepegawaian di PemKab Donggala. Di bagian kepegawaian itu, termasuk bagian yang paling kering, sangat jarang ada proyek, sehingga orang2 didalamnya sangat mendambakan proyek. *ingat, disini proyek diartikan sebagai uang* . Nhah, tahun ini cuman ada satu proyek Bag Kepegawaian, yaitu Simpeg itu. Tapi tiba-tiba, sama anak bupati Donggala, diserobot aja proyeknya, dan diserahkan proyeknya ke orang yang masih ada hubungan sodara, yang kebetulan kuliah S2 di UGM, trus orang tersebut memberikan proyek ini ke Pak Awal, dan pak Awal ngajak kami untuk mbuat Simpeg tersebut. Bagaimanapun juga anak Bupati tersebut yang bakalan menang, karena sudah ada dukungan dari Bupati nya. *disini bupati bisa diartikan sebagai raja* .

Kami datang ke jogja, tidak tau menau masalah tersebut. Kami di belok-belokkan oleh bagian kepegawaian, mereka sangat berbelit-belit, dan sangat menutup diri. Beliau-beliau ini sebenarnya maunya proyek ini dikerjakan oleh BKN (Badan Kepegawaian Nasional), karena pastinya kl dengan BKN, pihak kepegawaian bakalan mendapatkan fulus. Bahkan menurut analisa kami, proyek simpeg ini malahan hasil bisikan dari BKN, yang mendorong BagKepegawaian untuk meng-golkan proyek ini, kemudian besoknya proyek ini dikerjakan oleh BKN, dengan tentunya pihak kepegawaian akan dapet jatah uang panas.

Sampai hari kedua masih tidak jelas, kami masih dilempar kesana kemari. Meskipun tim dari anak Bupati sangat kuat, berbagai dinas mendukung, tapi… kami berpikiran tanpa dukungan dari pihak kepegawaiannya sendiri, proyek ini akan jadi mubadzir. Tapi anehnya di hari ketiga, semua bisa berbalik arah 180%, bagian kepegawaian malahan jadi mendukung kami, berbicara dengan enak, memperjuangkan kehadiran kami….. ada apa gerangan ??????

ohhh.. ternyata mereka sudah diberi komitmen bagian uang, pantes aja kok jadi gini. Dan disini uang yang dibagi-bagi ga main-main, bahkan bisa lebih dari yang kami terima dengan bersusah payah membuat simpeg ini. Tapi kami juga lega, karena akhirnya kami dah didukung sama semua bagian sekarang, tinggal pelaksanaannya. Dan mungkin hanya itulah yang kami dapat selama kedatangan kami di sini.

Benere sih, kalau cuman mau dapet uang, kami bisa aja dateng, nginstal program, tinggal pulang, dan dah beres dapet duit. Tapi kami masih agak2 idealis, masih memperjuangkan uang rakyat, takut diaudit BPK&KPK, dsb dsb. Yang diinginkan tim anak Bupati benernya juga itu, kami kesini ngurus masalah teknis aja, masalah lainnya, mereka yang urus, biar cepet. Untungnya kami tidak mau.

Coba bayangkan, ekonomi disini masih rendah, infrastruktur masih sangat minim, tata kota berantakan, tingkat pendidikan rendah, tapi duit dihambur-hamburkan dengan enaknya. Hati kami serasa teriris. Apalagi, saat perjalanan menuju donggala, kami melihat gunung-gunung dipangkas, dipotong, hancur, karena di exploitasi pasir dan batunya. Pasir putih dipantai diangkuti semua sama kapal-kapal tongkang. Investor-investor begitu mudah mendapatkan ijin, karena otonomi daerah yang malahan membuat semakin rusaknya alam rakyat ini. Uang investor buat rebutan pejabat2. kasihan benere …

note: judul tulisan ini, diambil dari buku serat centini, yang kebetulan aku baca-baca selama disini, mengisi waktu luang di pesawat, di hotel ato di teras kantor pemda. Judul bukunya adalah 40 malam dan satunya hujan. :D

FOTO2 :

Ini kamar hotel tempat kami nginep.

Dari kamar hotel, keluar kedepan 4 meter, ngelamun-ngelamun, eh nengok ke bawah, taman ini yang keliatan. Daripada ga ada kerjaan, yowes mmfoto taman ga mutu ini.

Ini pantai di teluk palu, lupa namanya. Anehnya, dipantai kayak gituan, jarang banget ada yang pacaran. Coba kl di jogja, bakalan banyak yang mojokkk.

Ini dua mobil yang nganter kami muter2 kemana-mana.

Gedung Pemda! Begitu megahnya, menghadap langsung ke pantai, jadi inget istananya pablo escobar. Ini gedung pemda yang paling megah yang pernah aku liat, kadang2 kl inget rakyat donggala, malah jadi kasihan, uang dihambur2kan buat mbangun gedung 24 Milyar ini. Eh 24 Milyar aja blom jadi gedungnya, jadi total besoknya mau berapa M yah.

Arsip-arsip berantakan. Di gedungnya Bag Kepegawaian, yang masih menempati kantor sementara, yaitu di gedung sekolah SD. Kasihan banget, kotor,puanas, dan berdebu.

Bagian kepegawaian di sisi lainnya.

Bagian kepegawaian dilihat dari luar.

Tampak jelas kalau Bag Kepegawaian make gedung SD kan??

Bandara Palu, saat kami dalam perjalanan pulang. Panass, di Palu udaranya sangat2 panas, bener-bener bikin ga betah. Bandaranya, sama terminal bis Giwangan di jogja aja kalah :P

7 comments on “Donggala, Empat Puluh Derita, Satunya Tangis