Menikah Beda Agama

Denger-denger pernikahan beda agama di Indonesia masih sangat-sangat repot, dan juga masih berimbas ke pembuatan akta kelahiran sang buah hati (yang notabene ga tau apa-apa). Ujung-ujungnya, sang buah hati pun jadi susah cari sekolah, susah mengurus surat-surat birokrasi.

Dengan asumsi, tak ada satupun yang mau berpindah agama,
apa solusi terbaik untuk kasus pernikahan dari dua insan yang beda agama?

1. Tetap menikah dalam keadaan berbeda agama
Konsekuensinya, harus repot mengurus birokrasi, pre wedding maupun post wedding nya. Keuntungannya, keluarga kedua belah pihak lebih merasa adil. Karena, luka yang dirasakan kedua keluarga relatif agak berimbang.

2. Menikah di luar negri
Untuk kalangan jetset, mungkin salah satu solusinya adalah menikah di luar negri (di negara sekuler). Kerugiannya adalah biaya yang membengkak, dan kemungkinan hanya akan mempermudah birokrasi pre wedding nya, namun post weddingnya tetep masih ribet juga. Keuntungannya, nikah sekalian bulan madu :D, dan lepaskan semua pusing masalah beda agama tersebut sambil jalan-jalan sepuasnya.

3. Menikah 2 kali, 2 agama
Salah satu temenku pernah berencana akan menikah dengan model ini, yaitu pernikahan diadakan dua kali, yang pertama diadakan dengan tatacara agama cewek, dilanjutkan pernikahan dengan tatacara yg cowoknya. Cara ini lebih bertujuan untuk memuaskan keluarga kedua belah pihak, tapi masalah birokrasi tetep saja rumit, karena pada dasarnya di KTP masing-masing, agamanya masih beda.

4. Campuran
Menurutku, (asal ngomong aja), yang paling mendingan solutif adalah Menikah tetap dalam keadaan berbeda agama, tapi menikahnya dengan dua tatacara, dan salah satu pihak “berpura-pura” didepan hukum berpindah agama.
Begini detail nya
- Ce & Co tetep dengan agama mereka masing-masing
- Pernikahan, diadakan dua kali, dengan tatacara 2 agama. Supaya, kedua keluarga puas! :P
- Dengan tujuan memudahkan pengurusan birokrasi pre dan post wedding, maka salah satu pihak berpura-pura berpindah agama secara hukum. Bukankah agama adalah urusan pribadi? peduli amat di KTP mau ditulis agama apa, yang penting masih menjalankan tuntunan agama yang diyakini. Dengan begini, anak-anak dikemudian hari pun juga ga akan mengalami kesulitan dalam hal birokrasi indonesia kita yang bobrok. Jika tidak ada salah satu pihak yang rela berpura-pura, maka bisa diadakan undian, atau “pingsut”. Gitu aja kok repot (kata gusdur).
- Setelah pernikahan berjalan lancar, honey moon selesai, suasana kembali normal dan sudah ada waktu, pihak yang pindah agama tadi, bisa berpindah agama lagi (secara hukum) ke agama yang dianut. Atau singkatnya, KTP si pengantin yang pindah agama dibalikin ke status agama asal.

Mengapa nikah beda agama harus di larang?
Toh mereka malahan sudah menunjukkan keseriusan dengan menikah, daripada “jajan” tiap malem.
Aku masih belum menemukan alasan yang tepat untuk melarang orang menikah berbeda agama.
Yah, agama adalah wilayah keyakinan jauh didalam lubuk hati, bukan hak kita untuk menghakimi ke-agama-an seseorang.
Mungkin, besok kl dah jadi orang tua, baru bisa keluar nilai2 ego keagamaanku :)

nb: Kebetulan ada beberapa temen yang saat ini sedang mengalami hal yang kurang lebih nya serupa, go go go guys n girls, semoga tercapai segala cita-cita mu :p

67 comments on “Menikah Beda Agama

  1. @ogi
    Setuju! Setuju! Setuju!
    Repot banget sih mau nikah aja.
    Luar negeri adalah negara sekuler… Lha kita ini kan juga bukan negara agama to, tapi negara hukum, lalu kenapa hukum agama dijadikan alasan untuk mempersulit pernikahan yang sah secara hukum negara?

    @tika
    wis nemu wedhus rung tik? wakkakakaka…

  2. menikah itu pilihan, jangankan mikirin pernikahan. nyari yang dinikahi yang sesuai dengan hati aja naujubilee susahnya..
    Dan konon, perawan semakin sedikit dimuka bumi…

  3. yo piye yoh. aku jane meh ngasih koment gak enak banged nie. yang bersangkutan duduk di depanku. Menurutku menikah beda agama itu mempersulit diri sendiri. Mungkin tidak berdosa soale masing-masing tetep dalam agama yang sama sebelum nikah, tapi yo seperti ulasane mas ogik, imbasnya akan mempersulit diri sendiri dan anaknya nantinya.

    Kalo mau aman dan dapet pahala besar ya Islam-kan saja calon pasanganmu :D

    btw, meh nikah trus ulasanmu sek ngene iki yo gik. kwkwkw

  4. waduh.. seperti kisah teman saya.hikz sebelum terjadi sebisa mungkin kl bisa dipertahankan jangan sampe de ninggalin agama kita..
    dan jika memang itu sudah menjadi keputusannya.. timbang nyetak udangan banyak2 mending aku ga usah dikasi deh.. lumayan berkurang 1 undangan hihihi

  5. …..SETUJU!! gitu aja kok repot!! Tulisa diatas pas banget sama kondisi aku. Yang jelas bagi ku,
    urusan hati dan agama hanya antara kita dan Tuhan yang tahu. Dosa dan pahala juga Tuhan yang menentukan. Jadi manusia g usah ikut2 an pusink …wong urip e wes mumuet meh ditambahi mumet..daripada mumet mendingmikir sing ra marai mumet :P

    Thank’s mas

  6. asyiikkk…
    ngirit undangan….

    hehe.. bcanda kok

    sori ikutan nimbrung ya..
    buat saya sih bukan perkara baru perdebatan seputar beda agama, dan ini juga saya dengar dari banyak rekan yang saat ini baik sebagai produk dari pernikahan beda agama maupun sebagai pelakunya sendiri.

    Memperdebatkan sebuah keyakinan (utamanya agama) tentu tidak akan pernah ada habisnya, karena setiap akar/ basis theologis memiliki dogmanya masing2, dan setahu saya setiap agama akan mengatakan agamanya yang terbaik. Dan saat saya mendengar ‘kata’ itu dari seorang pastor sekalipun (karena saya seorang katolik), saya selalu mengernyitkan dahi. dan kemudian… tersenyum kecut…

    Seorang teman dialog yang kebetulan sangat terbuka, Mas Giras (anaknya pak Butet Kertaredjasa) yang dekat sejak SMA dengan saya, yang notabene juga sebagai produk nikah beda agama islam-kristen lebih memilih kalau tidak beragama dari pada memeluk agama islam atau agama apapun? uuups… jangan kaget dulu…

    seorang teman baik itupun mengatakan..
    walaupun sampai sekarang masih rajin sholat, puasa, dan bahkan sudah naik haji namun lebih senang kalau ia diakui entitas pribadinya adalah “SUKU JAWA”… mengapa? karena dengan ke-JAWA-annya, tidak pernah ada dogma bahwa suku jawa yang terbaik, dan keJAWA-annya inilah yang lebih membawa kebanggaan pada dirinya.

    tapi kalau buat saya pribadi sie..

    kalau orang boleh punya selera warna baju yang berbeda tanpa ada perdebatan, mengapa selera menikmati keyakinan pribadi harus mendatangkan perdebatan..

    mendingan yaaa… yang suka pedes makanlah yang pedes, yang suka manis makanlah yang manis.. dari pada dipaksakan malah diare kan jadi repot. :)

  7. hehehe….

    bukannya justru yang bobrok kadang bisa menguntungkan ya gi, kan jadi bisa di-akal-in… buktinya loe punya beberapa step jitu yang bisa dijalanin….

    maju terus lah… heheheh

  8. Menikah beda agama..
    Mgkn kliatan g mslh..
    Tp kan kasian anaknya..
    Ya kayak kapal dgn 2 nahkoda,sadar ato ngga itu bakal jd masalah dikemudian hari.
    Bukannya di agama jg dijelaskan,hub suami istri dgn org yg ga sah dinikahi secara agama artinya zina?
    Ya tergantung dari orangny masing2 c..

    1. ya, itu kalau menurut hukum islam setau saya emang gitu. Tapi masukan yang sangat bagus lin! Bener spt katamu Lin, semua jg kembali ke orang-orangnya masing-masing. BTW, long time no see, kemana aja?

  9. Di gereja Katolik biasanya ada dispensasi, yang mana salah satu pasangan bukan agama Katolik tetap memegang teguh agama dia sendiri tanpa perlu pindah agama, dan Pastor/ Romo akan dapat menikahkan mereka berdua.

    Di kalangan warga Tionghoa, banyak sekali (hampir selalu) pasangan yang berbeda agama menikah dan terbukti tidak menemukan masalah baik dalam kehidupan pernikahan mereka maupun dalam membesarkan anak-anak mereka. Mungkin karena mereka berpandangan agama adalah hubungan antara suatu pribadi dengan di atas. Perkawinan adalah hubungan antar manusia dengan manusia (ranah budaya/culture)

    Karena saya Buddhist, saya percaya bahwa suatu pernikahan terjadi karena masing2 pihak di kehidupan lalu pernah berniat/berjanji untuk bersatu lagi di kehidupan mendatangnya

  10. kalo menikah beda agama dan memang harus menikah dan menyatu dalam sebuah keluar, menurut saya pribadi harus agamanya disatukan dahulu dalam arti hanya ada satu agama dalam pernikhanan tsb, entah calon istri ikut agama calon suami ataupun sebaliknya. kalau tidak demikian dipastikan akan banyak bisik2 dari tetangga, kerabat, dllnya – yang berimbas pada bahtera rumah tangganya kelak – walopun pada awalnya baik-baik saja. kebebasan beragama sih sah-sah saja. kalo bisa se-iman sih khan lebih baik, tul nggak bang!

  11. mmmmmm tp apakah sejauh ini konco2 semua sudah pernah memilih sendiri agama apa yg dipeluk? atau hanya sekedar meneruskan “pilihan” agama ortu? klo sudah pny jawaban yang benar2 pilhan sendiri maka menurut saya pernikahan beda agama tidak akan pernah terjadi…

  12. Sory Gix, Untuk saat ini aku masih suka jajan es jeruk dan mie rebus telur daripada nikah beda agama :)

    Koyo ne undangan ne ogix gak bakal lama lagi. Langsung 10ribu undangan via email tersebar, mengalahkan jumlah undangan mantune sultan. :)

  13. seperti halnya kapal, hanya ada 1 nahkoda yang mengangkut 1 kapal.. semoga itu bisa menjadi prinsip kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga :d . jangan sampe ada 2 nahkoda yang mengangkut 1 kapal.. :)

    1. ya ya ya, masalahe ada yang naek perahu ada yang kapal, dan ada yang kapal pesiar. Di di Kapal pesiar nahkoda sering lebih dari satu :P

    1. Gak mao repot :D setuju.. Tapi apa salah nya nikah di luar negri kalau memang kita udah mampu, dari pada gax nikah ntar ujung ujung nya malah suka jajan di luar :D

  14. Gi??? Jangan2 km mau nikah beda agama ya? kan thea islam gi..(bloon mode on:D:D:D:D)..

    the…apa artinya ogi mau poligami ya? tapi dengan ce beda agama…hmm..hmmm..hmm…tanda2 yang patut diwaspadai the….

  15. iya gi, kalo masalah surat2 sih gampang. ada uang ada jalan. masalahnya anak2 nanti mau dibawa kemana. aku sih terserah anak2ku yang putusin sendiri nanti saat dia sdh mulai mengerti slm yg dipilih benar.

    OOT, iya tuh kepca nya jatuh ke bawah :d

  16. 9 tahun aku dijogya, hampir tiap malam JAJAN diluar…
    enak sih.. bisa gonta ganti… yang penting cari ditempat yang aman.

    Kalo mikirin yang beda gini sih… gimana ya.. ??
    ntar ah.. aku nikah dulu biar ADA yang masak dan ga JAJAN lagi diluar.. soalnya dah dimasakin :))

  17. ini comment.. (menurut mas ogi semua comment itu boleh dan benar :p..)
    tipe orang ada 3:
    1. orang yg kuat agamanya
    2. orang yg tidak beragama
    3. orang yg agamanya sedang2 saja (pertengahan tipe 1 dan 2)
    - utk orang tipe 1, sangat jarang terjadi pernikahan beda agama, saat ini saya belum pernah menemukan ada ulama, pendeta, atau biksu menikah dengan orang yg beda agama, kalo ada mungkin hanya 1, 2 di dunia. jadi pernikahan beda agama bukan masalah yg akan di hadapi oleh tipe ini (utk dirinya sendiri)
    - tipe 2, yg saya maksud bukan berarti orang yg tdk mempunyai agama sama sekali, tapi misal meski ktpnya islam, tapi tdk pernah sholat, puasa, dll. utk tipe ini pernikahan seagama ataupun beda agama, saya kira tdk akan menjadi masalah dalam kehidupan keluarganya, toh agama tdk lagi dalam pikirannya, dan nantinya anak agamanya apa ya terserah.. kalo mo ngurus sesuatu sulit krn masalah agama jg bisa pindah agama sewaktu2, sesuai kebutuhan aja
    - kebanyakan orang masuk ke tipe 3, kekuatan iman sering berubah2, kadang imannya tinggi, kadang nafsunya tinggi, kadang cinta kepadanya pasangannya tinggi, dll. mungkin saat ini cinta pada pasangan adl segalanya, namun itu hanya sementara. setelah tjd pernikahan beda agama akan terjadi konflik batin tersendiri bagi pelakunya selain permasalahan lain yg akan dihadapi
    jadi kesimpulan dr penjelasan ini, menikahlah dengan yg seiman! kalo masih ingin tetap menikah dengan orang yg beda agama, jadilah tipe orang nomor 2
    peace .. :p

  18. Menikah 2 kali, 2 agama itu juga solusi gue…
    beneran bisa ya? gue kirain gue aja yang nghayal, karena nyokap bilang mana bisa…
    tapi itu lo tau ga nanti di catatan sipilnya, misalnya kalo gue pilih pura2 ngikut agama cowo gue, trus ortu gue ga hadir jadi dari sisi gue pake wali aja.. gitu boleh ga ya?

    adu surga banget nii baca tulisan lo… thq

  19. Jancuk… gak oleh cuk…. Dosa dan bakalan di laknat Allah SWT, krn nikah beda agama tidak di anjurkan dalam Islam. Orang Nikah ibaratnya menaka menaiki sebuah perahu yang namanya pernikahan. Suami/kepala keluarga berfungsi sebagai nahkoda dengan 1 tujuan yang jelas Yaitu Akherat. Mana mungkin perahu akan bisa sampai tujuan, klu kapal menuju ke 2 tujuan akhir. Karena Surga secara makro adalah sama, namun surga yang di maksutkan orang muslim dengan yang dimaksutkan orang non muslim atau keyakinan lain, pastilah berbeda………

  20. pernikahan beda agama buat aku ga ada masalah.. semua kan qta yg jalanin, jd knp mesti dipermasalahkan.. mslh anak.. ya itu sdh kewajiban qta sebagai ortu .. harus membimbing ..jgn sampai salah arah.. gt aja kok repot..

  21. wah tambah mumet aku,,,,,,,,,,,,,,,
    kebetulan inilah dilema yang sedang kuhadapi sekarang… pacarku beda agama… 4 tahun jalan… aghhhh nek wes tekan kene mumet lah… suk ketemu dalane,,, agama milik pribadi,,,,, toh kt lair jg gak minta agama kita beda,,, tlg donk,,, jgn siksa perasaan kita dg kondisi menyulitkan,, nkh wae susah

  22. wahhh ada ada aja…. namanya juga manusia. senengnya yang aneh2…

    MENIKAH BEDA AGAMA???? itu menurut saya orang yang ga punya prinsip atau orang yang ga bisa memutuskan satu pilihan hehehe itu menurut saya looo… jangan marah ya….

    ya gak gimana….. coba…. di satu sisi sang istri mencintai agama A dan di satu sisi lagi suami mencintai agama B walaupun keduanya saling mencintai tapi kan saling bertolak belakang kepercayaannya…..
    ya gak????

    yaudah terserah yang menjalani kalau memang nyaman yaudah jalanin aja. tapi yang pasti tetep ada yang kuranggg… masa suami istri ga sejalan..

    buat semua maaf ya jika ga setuju pendapat saya…

    dan terima kasih buat Admin

    Tambahan ingin berbagi tips sedikit silahkan kunjungi di http://serviceac.web.id

    Tips perawatan kulkas

  23. pikirkan juga perasaan orangtua masing2.

    okelah pernikahan adalah penyatuan antara dua pasangan yg saling cinta. ketika si a dan si b menikah, yakinlah dr pihak keluarga masing2 keluarga gak bakalan datang ke acara yg diadakan kedua belah pihak.

    kalaupun direstui dengan emblem “ya sudahlah mau apalagi” dan “kalian yg tanggung sendiri”. tetap, akan ada suatu waktu “bom” yg meledak.

    nikah itu tak sekedar antara dua insan. tapi juga menyatukan dua keluarga dengan banyak karakter.

    pikirkan baik2: sayang keluarga atau pasanganmu. tidak ada istilah mantan ayah, mantan ibu, mantan anak. (hubungan darah).
    tapi ada istilah mantan istri atau mantan suami.

    cuma berbagi pengalaman. :(

Leave a Reply to yani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>